Senin, 04 November 2013


Jangan Lupakan Keluarga
Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara. Aku mempunyai satu adik laki-laki yang saat ini masih duduk di bangku tahun pertama TK yang letaknya tak jauh dari rumah. Sementara aku saat ini berstatus sebagai seorang mahasiswa semester pertama di sebuah perguruan tinggi negeri di kotaku. Agak jauh memang jarak antara aku dengan adikku. Maklum adikku lahir ketika aku berusia 14 tahun. Dulu, aku pernah punya adik kembar perempuan. Usiaku saat itu kira-kira 10 tahun. Namun, Allah punya rencana lain. Mereka berdua meninggal beberapa hari setelah dilahirkan. Hikmahnya, ibuku sudah punya tabungan di akhirat. Ayahku adalah seorang penjaga sekolah di suatu Madrasah Tsanawiyah Negeri di dekat rumah. Dan ibu berjualan di tempat yang sama dengan ayah. Dan aku juga bersekolah di sana saat SMP. Jadi, bisa dibilang kami sekeluarga mempunyai hubungan dengan sekolah itu.
Sekarang yang mau kuceritakan adalah mengenai masa SMA ku. Dilemaku antara aku harus memilih sekolah, organisasi dan keluarga. Kenapa keluarga harus dicantumkan? Padahal jelas-jelas kalau keluarga itu selalu bersama kita. Ternyata ada saatnya kamu akan tahu bagaimana pentingnya keluarga bagi kita.
Sebagai seorang siswa di sebuah sekolah yang bisa dibilang favorit di kota ini maka aku pasti disibukkan dengan berbagai kegiatan. Setiap kali ada angkatan baru pasti akan ditanya dengan pertanyaan seperti ini, “Kamu mau jadi SO atau OO dek? “. Selalu seperti itu. SO adalah siswa yang mempunyai orientasi study oriented dan OO adalah siswa yang mempunyai orientasi organization oriented. Akhirnya kuputuskan aku ingin menyeimbangkan keduanya.
Aku memilih suatu ekskul yang memang paling aku minati. PMR. Karena dari SMP aku sudah jadi PMR. Setelah melalui beberapa tes akhirnya aku diterima menjadi anggota PMR. Nah, kehidupan SMA ku dimulai.
Sebagai suatu kelompok yang diberi kebebasan untuk menjalankan organisasi secara otonom, maka PMR di sekolah ini punya banyak program kerja. Dan mau tidak mau sebagai konsekuensi aku masuk PMR aku harus mengikuti semua kegiatannya. Dan ini sangat menyita waktuku. Hampir tiap hari aku selalu pulang malam. Pulang magrib atau habis isya’ pun sering. Malah kalau aku pulang jam 2 tepat akan terlihat aneh.
Sementara itu, sebagai salah satu sekolah favorit, maka pelajaran juga menjadi sangat sulit. Guru yang mengajarkan terlalu cepat, ulangan dan tugas menumpuk. Sementara waktu seakan kurang.
Di sisi lain aku juga semakin menjauh dari keluarga. Tiap hari rutinitas yang kujalani adalah berangkat pagi, pelajaran sampai jam 2 siang, langsung rapat atau latihan rutin, pulang magrib, masuk kamar ngerjain tugas hingga tengah malam, tidur dan bangun lagi. Begitu terus siklus hidupku. Hingga aku tak sempat untuk sekedar bercengkrama dengan keluarga.
Setiap hari kalau dihitung aku Cuma berbicara dengan ayahku hanya beberapa kata saja. Karena beliau berangkat juga saat aku masih tidur, pulang ketika aku masih di sekolah, dan berangkat lagi ketika aku masih sibuk mengerjakan tugas. Ironis memang. Sementara dengan ibu aku juga sedikit berbicara, tak sebanyak dulu waktu SMP, meski lebih intens daripada dengan ayah. Nah, adikku ini yang paling jarang berbicara. Dia masih tidur ketika aku berangkat, dan dia sudah tidur ketika aku pulang. Rumah itu jadi kayak hotel. Makan, tidur, bangun, berangkat. Tugas-tugas rumah juga jarang kukerjakan, meski sudah dapat ijin ibu untuk tidak usah mengerjakan yang penting sekolah yang benar.
Sampai suatu saat, tekanan-tekanan yang ada mencapai puncak. Kondisi tubuhku memburuk, dan tanggung jawab sekolah dan organisasi pada puncaknya. Akhirnya, aku down. Napasku sesak, perutku mual, rasanya seperti orang kena asma padahal aku tak punya riwayat asma. Tangisku pecah. Aku merasa sangat lemah.
Ternyata, orang pertama yang merawatku adalah ibu. Dengan lembut dan sabar beliau mengobatiku, menenangkan aku agar tak menangis lagi. Dan ayah, pergi mencari obat. Berusaha mendapatkan apa yang terbaik untuk anaknya. Bahkan adikku pun yang biasanya juga acuh tak acuh akhirnya menunggu di sampingku.
Ya Allah, betapa besar nikmat yang engkau berikan. Maafkan hamba yang jarang bersyukur ini. Maafkan hamba yang sempat melupakan pemberian yang telah Engkau berikan. Maafkan hamba yang melupakan keluarga hamba.
Salah satu perkataan ibuku yang mebuatku trenyuh adalah ketika beliau melihat aku memakai pisau untuk membuka celengan plastik, beliau langsung menyuruhku berhenti dan beliau yang membukanya sambil berkata,”aku takut tanganmu terluka kena pisau.” Deg. Hatiku rasanya trenyuh sekali.
Mulai sekarang aku akan selalu memperhatikan, merawat dan menjaga kelurgaku. Aku tak mau menyesal, ketika mereka sudah tak ada.
Begitulah, cerita yang sangat simpel kalau dipikirkan. Tapi, punya makna yang dalam bagi hatiku. Dan sepertinya, saat ini siklus kehidupanku akan dimulai lagi. Jadi, aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama lagi


14.  Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun[1180]. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu.

[1180]  Maksudnya: Selambat-lambat waktu menyapih ialah setelah anak berumur dua tahun.



3 komentar:

  1. this is really a very good story. Miftah, you are really great!

    BalasHapus
  2. Sangat menginspirasi :) #janganMENGELUH

    BalasHapus

Terimakasih telah mengunjungi website resmi Himpunan Mahasiswa Kimia FMIPA UNY
"Hima Kimia 2018, Kembangkan Diri, Berdedikasi, Wujudkan Himaki Jaya"

AGENDA HIMAKI

AGENDA HIMAKI
DIES NATALIS JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA KE 62

GALERI HIMAKI

GALERI HIMAKI
Dokumentasi Agenda Himaki
HIMAKI UNY. Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Pengunjung 2018

admin

Arvian : 085741331362

Arsip Blog

Entri Populer