Belajar Berjam-jam, tetapi Materi Cepat Hilang

 

Kebanyakan mahasiswa menganggap belajar terlalu lama sebagai kegiatan produktif. Duduk berjam-jam di depan layar laptop, membuka banyak slide materi, hingga begadang demi mengejar materi dianggap sebagai “usaha maksimal” sebelum ujian. Namun, terdapat satu masalah yang sering muncul setelah belajar dengan durasi yang lama, yaitu materi justru cepat hilang dari ingatan. 

Fenomena tersebut seringkali terjadi di kalangan mahasiswa. Secara ilmiah, otak manusia mempunyai batas dalam memproses informasi. Belajar dengan durasi yang lama tanpa jeda menyebabkan kelelahan kognitif. Informasi yang diterima sulit tersimpan di dalam memori dengan jangka waktu yang panjang, hal inilah yang menyebabkan seseorang mudah lupa meskipun belajar dengan durasi waktu yang lama.
   Selain faktor durasi belajar, metode belajar juga berpengaruh terhadap daya ingat otak mahasiswa. Kebanyakan mahasiswa cenderung kurang tepat dalam memilih metode belajar, misalnya menggunakan cara pasif dengan membaca ulang materi terus-menerus. Padahal, metode aktif seperti membuat rangkuman atau berlatih soal dianggap lebih efektif dalam membantu otak mengingat informasi. Cara ini menjadikan otak lebih terbiasa mengingat kembali materi yang sudah dipelajari.
    Fenomena cepat lupa juga berkaitan dengan sistem kebut semalam atau biasa disebut dengan SKS. Belajar dengan materi yang banyak dalam durasi waktu singkat menyebabkan otak menjadi overload. Informasi yang diterima memang masuk ke memori jangka pendek, namun sulit untuk bertahan lama. Tidak heran jika materi yang sudah dipelajari sebelumnya sering cepat lupa setelah ujian selesai.
    Di dalam dunia pendidikan, terdapat istilah “spacing effect”, yaitu metode belajar dengan jeda dan pengulangan secara bertahap. Metode ini dianggap lebih efektif dibandingkan belajar secara terus-menerus tanpa jeda. Penelitian menunjukkan bahwa belajar sedikit demi sedikit tetapi dilakukan secara rutin lebih membantu meningkatkan resistensi memori.
    Selain disebabkan oleh faktor metode belajar, terdapat berbagai faktor lainnya, seperti kurang tidur, stres, dan distraksi penggunaan gadget juga mempengaruhi konsentrasi. Otak yang lelah akan sulit untuk menyerap informasi baru. Oleh karena itu, belajar efektif tidak hanya mengenai durasi belajar, melainkan juga mengenai strategi belajar yang tepat. Mengatur waktu belajar dan memberikan jeda istirahat dapat membantu otak dalam memahami materi agar lebih mudah diingat dan dipahami.

Daftar Pustaka:

Alsa, A. (1996). Studi Eksperimental tentang Pengaruh Interferensi dan Rehearsal terhadap Retensi pada Belajar Matematika. Jurnal Psikologi Universitas Gadjah Mada.

Cepeda, N. J., Pashler, H., Vul, E., Wixted, J. T., & Rohrer, D. (2006). Distributed Practice in Verbal Recall Tasks: A Review and Quantitative Synthesis. Psychological Bulletin, 132(3), 354–380.

Kornmeier, J., Spitzer, M., & Sosic-Vasic, Z. (2014). Very Similar Spacing-Effect Patterns in Very Different Learning/Practice Domains. PLOS ONE, 9(3), e90656.

Roediger, H. L., & Karpicke, J. D. (2006). Test-Enhanced Learning: Taking Memory Tests Improves Long-Term Retention. Psychological Science, 17(3), 249–255.

Rokan, S. Z., & Rambe, A. S. (2021). Pengaruh Variasi Jenis Stimulus Informasi pada Memori Jangka Pendek. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia, 9(2).

Sewang, A. (2021). Understanding Learning Outcomes: Comparing the Effect of Spacing Instruction versus Massed Instruction. Cypriot Journal of Educational Sciences, 16(1), 328–340.

Terima kasih telah mengunjungi website resmi Himpunan Mahasiswa Kimia FMIPA UNY.

0 Komentar