Fenomena Brain Rot Akibat Konsumsi Konten Video Pendek Berlebihan pada Generasi Digital

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi dan hiburan. Salah satu bentuk media yang paling populer saat ini adalah konten video pendek pada platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts. Konten yang singkat, menarik, dan mudah diakses membuat pengguna dapat menghabiskan waktu berjam-jam untuk menonton berbagai video. Di balik kemudahan tersebut, muncul fenomena yang dikenal sebagai brain rot, yaitu kondisi yang menggambarkan menurunnya kemampuan fokus, konsentrasi, dan berpikir kritis akibat konsumsi konten digital secara berlebihan.
    Fenomena brain rot terjadi karena video pendek dirancang untuk menarik perhatian pengguna dalam waktu singkat. Algoritma media sosial terus menampilkan konten yang sesuai dengan minat pengguna sehingga mereka terdorong untuk terus melakukan scrolling. Selain itu, setiap konten yang menarik dapat memicu pelepasan dopamin di otak, yang menimbulkan rasa senang dan membuat pengguna ingin terus menonton video berikutnya. Akibatnya, pengguna menjadi terbiasa dengan hiburan instan dan kesulitan melepaskan diri dari media sosial.
    Dampak utama dari brain rot adalah menurunnya rentang perhatian (attention span). Seseorang yang terbiasa menonton video pendek secara terus-menerus cenderung lebih mudah bosan ketika membaca buku, mengikuti pembelajaran, atau mengerjakan tugas yang membutuhkan konsentrasi dalam waktu lama. Selain itu, kebiasaan menerima informasi secara cepat dapat mengurangi kemampuan berpikir kritis karena pengguna jarang melakukan analisis mendalam terhadap informasi yang diterima.
    Fenomena ini juga dapat memengaruhi produktivitas belajar dan bekerja. Waktu yang seharusnya digunakan untuk kegiatan yang lebih bermanfaat sering kali habis untuk menonton video pendek. Akibatnya, fokus belajar berkurang, tugas tertunda, dan kualitas pekerjaan dapat menurun. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini berpotensi mengganggu perkembangan kemampuan kognitif, terutama pada remaja dan mahasiswa yang merupakan pengguna aktif media sosial.
    Walaupun begitu, video pendek tidak selalu memberikan dampak negatif. Banyak konten edukatif yang dapat menambah wawasan dan keterampilan pengguna. Oleh karena itu, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana seseorang mengatur penggunaan media sosial secara bijak. Membatasi waktu layar, memperbanyak aktivitas membaca, dan melakukan kegiatan di luar dunia digital dapat membantu mengurangi risiko terjadinya brain rot.
    Pada akhirnya, fenomena brain rot mengingatkan kita bahwa teknologi digital adalah alat, bukan tujuan. Konsumsi konten video pendek yang berlebihan terbukti dapat mengikis kemampuan kognitif, mulai dari fokus hingga daya pikir kritis. Oleh karena itu, literasi digital dan pengelolaan waktu layar yang baik menjadi langkah penting untuk memastikan teknologi tetap berfungsi sebagai penunjang, bukan perusak kualitas berpikir manusia.

Daftar Pustaka
Chiossi, F., Haliburton, L., Ou, C., Butz, A., & Schmidt, A. (2023). Short-form videos degrade our capacity to retain intentions: Effect of context switching on prospective memory. Proceedings of the 2023 CHI Conference on Human Factors in Computing Systems (CHI '23), Hamburg, Germany. ACM.  

Kustiawan, W., Amelia, R. N., & Sugiarto, S. (2022). Dampak media sosial TikTok terhadap perilaku remaja pada era globalisasi. JIKEM: Jurnal Ilmu Komputer, Ekonomi dan Manajemen, 2(1), 2108–2115. 

Oxford University Press. (2024). Brain rot named Oxford Word of the Year 2024. https://corp.oup.com/news/brain-rot-named-oxford-word-of-the-year-2024/ 

Utami, D. P., & Hidayat, R. (2023). Pengaruh penggunaan media sosial terhadap konsentrasi belajar dan kesehatan mental remaja. Jurnal Pendidikan dan Psikologi, 9(3), 211–223.

Terima kasih telah mengunjungi website resmi Himpunan Mahasiswa Kimia FMIPA UNY.

0 Komentar