Fear of Missing Out (FOMO) di Era Media Sosial: Dampaknya terhadap Perilaku dan Kehidupan Sehari-hari

 

M
edia sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan memungkinkan individu untuk mengetahui berbagai aktivitas orang lain secara cepat. Kemudahan tersebut memberikan manfaat dalam komunikasi dan pertukaran informasi, tetapi juga dapat menimbulkan tekanan sosial. Salah satu fenomena yang berkaitan dengan kondisi tersebut adalah “Fear of Missing Out” (FOMO).
  FOMO didefinisikan sebagai pengalaman psikologis berupa kekhawatiran bahwa orang lain sedang memperoleh pengalaman yang menyenangkan atau berharga sementara dirinya tidak terlibat di dalamnya. Fenomena ini banyak ditemukan pada mahasiswa dan berkaitan dengan tingginya paparan serta penggunaan media sosial (Johanda et al., 2026).
  Secara karakteristik, FOMO tidak sekadar berkaitan dengan kebiasaan menggunakan gadget, melainkan berawal dari kebutuhan psikologis dasar manusia untuk merasa tetap terhubung dan diterima secara sosial. Salah satu konsekuensi FOMO adalah kecenderungan seseorang untuk membandingkan dirinya dengan orang lain, atau dikenal sebagai social comparison. Cahyani dan Pangestuti (2023), dalam studinya menemukan bahwa hubungan positif yang cukup kuat antara tingkat FOMO dengan kecenderungan melakukan perbandingan sosial. Artinya, semakin tinggi tingkat FOMO seseorang, semakin tinggi pula kecenderungannya untuk membandingkan pencapaian, gaya hidup, maupun kebahagiaan dirinya dengan apa yang ditampilkan orang lain di media sosial.
    FOMO dapat mendorong seseorang untuk terus memantau media sosial karena adanya kekhawatiran bahwa dirinya akan melewatkan informasi atau pengalaman yang sedang diperoleh orang lain. Ketika melihat teman atau pengguna lain membagikan aktivitas tertentu, individu dapat merasa perlu mengetahui perkembangan terbaru agar tetap merasa terhubung dengan lingkungan sosialnya. Namun, kebiasaan terus-menerus memantau ini justru sering kali memicu dampak buruk pada kesehatan mental. Alih-alih merasa terhubung, paparan berlebihan terhadap linimasa orang lain kerap menimbulkan rasa cemas, perasaan tidak puas diri, hingga kelelahan mental akibat membandingkan hidup sendiri dengan standar artifisial di dunia maya. Akibatnya, waktu dan energi terkuras habis, sementara kualitas interaksi di dunia nyata justru terabaikan.
    Dampak FOMO tidak berhenti pada itu saja. Menurut Savitri (2019), melalui studinya, penggunan media sosial di rentang usia emerging adulthood, menemukan bahwa FOMO secara signifikan memprediksi rendahnya kesejahteraan psikologis seseorang, khususnya pada aspek penguasaan lingkungan, hubungan positif dengan orang lain, dan penerimaan diri. Dalam kehidupan sehari-hari, pola ini dapat terlihat dari kebiasaan memeriksa media sosial secara berulang di tengah aktivitas lain, hingga perhatian yang perlahan bergeser dari apa yang sedang dijalani secara langsung ke apa yang terjadi di layar.
    Seiring berkembangnya media sosial, fenomena psikologis "Fear of Missing Out" (FOMO) menjadi semakin relevan. Fenomena ini ditandai dengan kecemasan individu akan ketertinggalan informasi mengenai aktivitas atau pengalaman orang lain, yang kemudian mendorong penggunaan media sosial secara berlebihan. Sejumlah studi membuktikan bahwa FOMO berkorelasi signifikan terhadap berbagai masalah, seperti penurunan kesejahteraan psikologis, gangguan tidur, stres, kelelahan, serta hambatan dalam aktivitas sehari-hari.
    Di sisi lain, media sosial tidak selalu memberikan dampak negatif. Dampak yang muncul sangat dipengaruhi oleh pola penggunaan dan kondisi individu. Oleh karena itu, penggunaan media sosial secara seimbang, kesadaran terhadap pola konsumsi informasi, serta kemampuan untuk tidak selalu mengikuti setiap aktivitas yang muncul di media sosial menjadi langkah penting dalam mengurangi dampak negatif FOMO.

Daftar Pustaka
Cahyani, R. O., & Pangestuti, R. (2023). Fear of missing out (FoMO) dengan social comparison pada mahasiswa pengguna Instagram. Psikoislamika: Jurnal Psikologi dan Psikologi Islam, 20(1), 568–578. https://doi.org/10.18860/psikoislamika.v20i1.20567

Johanda, D., Adiningsih, S., Azzahra, N. V., & Fikriyyah, H. S. (2026). Adaptasi dan uji psikometrik State Fear of Missing Out Inventory (SFOMOI) versi bahasa Indonesia. Acta Psychologia, 7(2), 88–98. https://doi.org/10.21831/ap.v7i2.95600

Maghfirah, A., & Mardhiyah, Z. (2025). Fear of Missing Out (FOMO) in university student social media users: How does it correlate with emotional intelligence? ANIMA Indonesian Psychological Journal, 40(1), E04. https://doi.org/10.24123/aipj.v40i1.6720

Murniasih, F. (2023). Sisi gelap media sosial: Mediasi perbandingan sosial pada hubungan fear of missing out dan social media fatigue. Jurnal Diversita, 9(1), 93–103. https://doi.org/10.31289/diversita.v9i1.8899

Nafisa, S., & Kusuma Salim, I. (2022). Hubungan antara fear of missing out dengan kecanduan media sosial. Journal of Islamic and Contemporary Psychology (JICOP), 2(1), 41–48. https://doi.org/10.25299/jicop.v2i1.9406

Savitri, J. A. (2019). Fear of missing out dan kesejahteraan psikologis individu pengguna media sosial di usia emerging adulthood. Acta Psychologia, 1(1), 87–96. https://doi.org/10.21831/ap.v1i1.43361

Terima kasih telah mengunjungi website resmi Himpunan Mahasiswa Kimia FMIPA UNY.

0 Komentar