Sam Poo Kong, tempat yang
selalu ramai saat perayaan Tahun Baru Imlek, menyimpan jutaan kisah di balik
kemegahan bangunan dengan sejarah dan budaya yang kental. Di dalam lautan
manusia yang membanjiri tempat itu, terdapat seorang pria tampan dengan rambut
sehitam arang dalam balutan busana semi formal. Sepasang mata itu berbinar
bagai mutiara yang bersinar apabila terkena cahaya. Ia bagaikan seorang
pangeran yang menyaksikan festival lampion di antara rakyatnya. Wajahnya
bermandikan cahaya merah jambu dan kuning keemasan yang lembut dari lampion.
Sudah empat tahun ya?
Benar-benar tidak terasa …
Pria itu mengalihkan
pandangannya ke arah sebuah lampion cina berwarna merah yang tergantung di
depan sebuah toko di area klenteng. Lampion itu berwarna merah, berbentuk
bulat, dan memiliki rumbai berwarna kuning keemasan. Hal itu mengingatkannya
akan sesuatu, sesuatu yang ia harap bisa diulanginya lagi.
“Jun! Hei, Wen Junhui!”
kata seseorang dari balik kerumunan.
Pria itu segera berbalik
untuk melihat pemilik suara itu.
“Hao? Apa yang kau lakukan
di sini?” tanyanya dengan nada datar.
“Aku kebetulan lewat sini,
jadi aku memutuskan untuk mampir. Wah, sepertinya mereka akan segera melepaskan
lampion-lampion itu,” kata pria bernama Xu Minghao itu dengan nada cerianya
yang masih segar di ingatannya.
“Begitu ya.”
Kemudian pria itu kembali
memandang langit. Sorot matanya mengungkapkan bahwa hatinya sedang berkecamuk
di malam itu. Dia berharap sesuatu yang pernah ada dalam hidupnya kembali,
berharap semua kenangan yang pernah dia lalui kembali. Aroma dupa yang dinyalakan
menambah kesan magis di tempat itu. Sungguh pemandangan yang indah melihat umat
Kong Hu Cu bersembahyang, memanjatkan doa untuk tahun yang lebih baik di masa
depan. Sungguh menakjubkan.
Setelah melakukan
serangkaian sembahyang, masyarakat Tionghoa bersiap untuk melepaskan
lampion-lampion mereka. Mereka percaya bahwa kegiatan itu dapat menolak nasib
sial dan melindungi semua orang dari kejahatan. Malam itu dipenuhi doa dan
harapan masyarakat Tionghoa untuk masa depan yang baik, rezeki berlimpah, dan
umur panjang.
***
Suatu hari, sebuah
keluarga kecil datang ke kompleks pecinan yang ada di Semarang. Mereka adalah
keluarga terpandang yang pindah karena pekerjaan mengharuskan mereka untuk
tinggal di Semarang untuk sementara waktu. Keluarga itu memiliki seorang gadis
remaja berparas ayu bagai bunga di tengah gurun yang gersang. Keluarga itu
beragama muslim yang merupakan suatu kejutan di tengah kompleks pecinan yang
mayoritas beragama Kong Hu Cu.
“Apakah kita harus tinggal
di sini?” tanya gadis itu sambil melihat lingkungan barunya.
“Ya. Ayahmu memiliki
pekerjaan yang harus diselesaikan di sini. Jangan khawatir, Ran. Warga di sini
baik-baik kok,” kata sang ibu sambil mengusap kepala putrinya.
“Tetap saja..” gumamnya.
Gadis itu masuk ke dalam
rumah barunya dengan perasaan cemas.
Sore harinya, gadis
bernama Rani itu memutuskan untuk menelusuri lingkungan barunya. Dia bisa
melihat bangunan berarsitektur Cina di sepanjang perjalanan. Lampion-lampion
tergantung di berbagai tempat, seperti di depan rumah, kedai, vihara, dan
sebagainya.
Tiba-tiba, Rani melihat
seekor kucing anggora putih menghampirinya. Gadis itu segera berjongkok untuk
menangkapnya, mengingat ia sangat menyukai makhluk berbulu itu. Ternyata kucing
itu jinak karena ia membiarkannya membelai bulunya yang selembut kapas.
“Permisi, itu kucingku.”
Rani segera mendongak
untuk melihat pemilik suara itu. Dia terkejut melihat seorang remaja yang
terlihat seumuran dengannya. Ia segera menggendong kucing itu untuk diserahkan
kepada pemiliknya.
“Maaf, ini kucingmu.”
“Terima kasih. Dia memang
suka berkeliaran.”
Ada keheningan singkat di
antara mereka berdua. Tak ada dari mereka yang mau memulai pembicaraan. Pria
bernama Wen Junhui itu hanya menatap gadis itu sebelum akhirnya memecah
keheningan.
“Apakah kau baru di sini?”
“Eh, iya. Bagaimana kau
tahu?” tanya Rani dengan mata melebar.
“Kau terlihat tidak
familiar dengan lingkungan ini. Aku juga belum pernah bertemu denganmu
sebelumnya.”
Gadis itu mengangguk. “Ya.
Ayahku ada pekerjaan di sini. Sebenarnya keluargaku beragama Islam, sedangkan
di sini mayoritas beragama Kong Hu Cu. Aku merasa berbeda.”
Jun menghela napas pelan.
“Kami memperlakukan semua
orang dengan setara, tidak peduli suku, ras, agama, atau golongan mereka. Kami
sudah lama hidup dalam toleransi. Kau tidak perlu takut akan diskriminasi atau
sejenisnya. Kami menerima keluargamu di sini.”
Mata Rani berbinar
mendengar perkataan Jun. Dia merasa lega.
“Terima kasih.”
***
Suatu hari Jun dan Rani
berjalan-jalan di sekitar kompleks. Saat itu, cuaca tidak terlalu panas dengan
langit bagai safir biru dan awan seputih kapas. Angin sepoi-sepoi membelai
wajah mereka dengan lembut sepanjang perjalanan. Akhirnya mereka sampai di Klenteng
Sam Poo Kong, tempat ibadah umat Kong Hu Cu yang memiliki banyak nilai sejarah.
Kemudian mereka berdiri di
depan patung raksasa Laksamana Cheng Ho yang berdiri dengan gagah di Klenteng
Sam Poo Kong.
“Sekitar abad ke 15
Masehi, seorang laksamana pada masa Dinasti Ming bernama Cheng Ho atau Zheng He
datang ke Semarang, tepatnya di Gedong Batu, Simongan. Pada awalnya, tujuan
beliau datang untuk mengobati juru mudinya, Wang Jing Hong, yang saat itu sedang
sakit.”
Pria bernama Wen Junhui
itu melihat sepasang mata gadis itu berbinar penuh kekaguman saat ia melihat
patung raksasa Laksamana Cheng Ho yang berdiri di depan mereka.
“Apakah kau tahu? Cheng Ho adalah seorang
muslim.”
“Benarkah?” Rani terkejut.
“Jika dia muslim, mengapa mereka membuat patungnya di sini?”
“Patung ini dibangun
sebagai bentuk penghormatan Wang Jing Hong kepada Laksamana Cheng Ho atas
jasa-jasanya. Beliau juga mengajarkan bercocok tanam kepada warga dan
menyebarkan agama Islam di Semarang. Di sebuah gua batu, tempat persinggahan
armada Cheng Ho, dibangun sebuah klenteng oleh warga yang kemudian diberi nama
Sam Poo Kong.”
“Begitu ya. Terima kasih
atas penjelasannya,” kata Rani sambil tersenyum.
Tiba-tiba suasana kembali
hening. Ada yang berbeda dari pria itu. Matanya seperti mengungkapkan hal-hal
yang sukar diucapkan melalui bibirnya. Kemudian dia merogoh saku jaketnya untuk
mengambil sesuatu. Dia mengambil sebuah gantungan kunci berbentuk lampion cina
berwarna merah.
“Untukmu,”
“Untukku? Kau tidak
perlu–”
“Aku bersikeras,” Jun
memotong kalimat gadis itu.
“Baiklah. Terima kasih
Jun.”
Rani memegang gantungan
kunci itu di tangannya. Benda itu memiliki tekstur yang halus dan rumit.
Terdapat ukiran-ukiran tradisional pada permukaan benda bulat itu. Dia masih
canggung untuk menatap mata pangeran yang berdiri di depannya itu. Dia segera
mendongak ketika mendengar suara pria itu.
“Aku akan pergi ke Jepang
untuk belajar,”
“Eh? Kenapa tiba-tiba?”
tanya Rani dengan suara bergetar.
“Ini kesempatan bagus
untuk meraih cita-citaku. Aku harap kau mengerti.”
Setelah beberapa saat,
Rani akhirnya setuju.
“Baiklah. Tapi berjanjilah
kau akan kembali dengan selamat.”
“Janji.”
Mereka berdua menautkan
kedua kelingking mereka, berjanji untuk bertemu lagi suatu hari nanti di tempat
megah dan bersejarah itu. Mereka berharap takdir akan mempertemukan mereka lagi
dalam keadaan yang baik.
***
Beberapa bulan di Jepang,
Jun mulai beradaptasi dengan lingkungan barunya itu. Jepang tentunya jauh
berbeda dari Indonesia dalam banyak hal. Dia juga mulai membiasakan diri
menggunakan Bahasa Jepang dalam kesehariannya di Negeri Sakura itu. Meski
tujuannya ke Jepang adalah untuk belajar, Jun benar-benar menarik perhatian
semua orang mengingat wajahnya yang begitu rupawan.
Malam itu, Jun
berjalan-jalan di Kota Tokyo untuk melepas penat. Ternyata Ibu Kota Jepang itu
sedang merayakan datangnya musim semi. Kota itu dipenuhi lautan manusia yang
sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Suara pengunjung, pedagang, dan
lainnya bercampur di tempat itu, membuatnya begitu hidup. Entah mengapa, dia
merasa kesepian di tengah keramaian kota.
Tiba-tiba, dia melihat
sesosok gadis berambut hitam sepunggung berdiri di depannya. Jun tidak percaya
apa yang dia lihat. Gadis itu tersenyum ke arahnya. Rambut panjangnya yang
tergerai perlahan ditiup angin, semakin menyakinkannya untuk menghampiri gadis
itu. Sebelum dia beranjak dari tempatnya berdiri, kerumunan orang melewati
gadis itu sehingga ia tertutup dari pandangannya. Setelah kerumunan itu
berlalu, dia tidak bisa menemukan gadis itu. Dia menghilang.
***
Sepertinya aku
merindukanmu …
Setelah pelepasan lampion, masyarakat Tionghoa dan pengunjung
lainnya mulai meninggalkan klenteng. Dia masih berdiri di sana, melihat ke arah
jutaan lampion yang terbang ke langit dan menyinari kegelapan malam. Meski
perasaannya sedang berkecamuk, dia berusaha agar tidak terbaca dari luar.
“Jun, kapan kau akan
pulang?” tanya Minghao.
Suara Minghao
menyadarkannya dari lamunannya.
“Sebentar lagi,” jawabnya
dengan nada datar.
“Baiklah. Jika kau perlu
sesuatu, jangan ragu untuk menghubungiku.”
Tak lama kemudian, Minghao
hilang ditelan lautan manusia yang hendak meninggalkan klenteng.
Kemudian Jun melihat
seorang gadis berambut panjang berdiri di depannya. Dia adalah Rani, sahabatnya
yang tinggal di kompleks pecinan. Dia tidak berubah, masih sama ramahnya
seperti yang ada di ingatannya.
“Kau masih sama,” dia
tersenyum tipis.
Gadis itu tersenyum, “Kau
juga tidak berubah. Kau akan menggapai cita-citamu suatu hari nanti.”
“Terima kasih.”
***
Terima kasih telah mengunjungi website resmi Himpunan Mahasiswa Kimia FMIPA UNY.
0 Komentar