Selasa, 21 Februari 2017

Haiii warga Jurdik Kimia ?? Gimana rasanya kuliah diminggu kedua ini? Apakah ada ganjalan dan keluh kesah di awal perkuliahan ini terhadap pelayanan Jurusan Pendidikan Kimia dan Hima Kimia? Jika ada ayo sampaikan ganjalan dan keluh kesah kamu disini.

Minggu, 19 Februari 2017






Pada hari Sabtu tanggal 18 Februari 2017 telah dilaksanakan babak seleksi regional untuk Olimpiade Kimia Nasional Chemistry and English Competition 2017. Rangkaian acara di mulai dengan registrasi peserta pada pukul 07.30-08.30. Kemudian setelah peserta melakukan registrasi, para peserta mulai memasuki ruangan pada pukul 08.30 lalu para penjaga ruangan mulai membacakan tata tertib dan para peserta mulai mengerjakan soal hingga pukul 10.15.
Seleksi regional terbagi menjadi 9 regional tetapi tahun ini kita hanya bisa melaksanakan di 7 regional yaitu Yogyakarta, Semarang, Jakarta, Bandung, Surabaya, Purwokerto, dan Samarinda. Meskipun hanya bisa melaksanakan di 7 regional tetapi antusias para peserta dari masing-masing regional sangat menggebu. Semoga dengan semangat dan usaha yang kalian bawa dalam seleksi regional ini dapat membuahkan hasil sesuai yang kalian inginkan. Teruslah berdo’a dan teruslah berkarya. Sampai ketemu difinal dan bertemu dengan teman baru dari peserta LKTI dan Writing and Story Telling Contest. To be the winner and give a best your action.


Hasil gambar untuk skripsi

Haloo kimiawan calon negarawan. Mungkin beberapa dari kalian sempat berpikir, buat apa sih susah-susah penelitian, capek-capek ngerjain skripsi, kalo ujung-ujungnya hasil kerja keras kalian itu cuma jadi tumpukan kertas yang bertumpuk jadi satu di sudut ruang. Mungkin itu adalah salah satu keresahan yang dirasakan banyak mahasiswa Indonesia saat ini. Mengapa sih hasil pemikiran insan-insan cendekia bangsa ini hanya dijadikan sebagai formalitas untuk syarat kelulusan?

Menurut Prof. Dr.-Ing. Fahmi Amhar (Peneliti Utama Badan Informasi Geospasial dan Anggota Dewan Pakar IABIE) Mengapa level riset kita secara internasional rendah?  Level riset kita bahkan lebih rendah dibanding Malaysia, atau Vietnam.  Tulisan ini mencoba mengungkap beberapa sebab.
Pertama karena kita tak lagi punya "science & technology leadership" (kepemimpinan iptek). Yang saya maksud adalah kepemimpinan di level elit nasional, baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Masih ingatkah kita ketika dulu ada seorang Presiden "tertipu" oleh "penemuan blue energy", dan baru mengundang para peneliti setelah masyarakat ikut tertipu (tertipu berjama'ah). Di berbagai kementerian & lembaga, juga di kampus, ego sektoral / unital (sekalipun sama-sama untuk riset) sangat terasa. Demikian juga bagaimana dengan masyarakat kita sekarang ini, melek internet tetapi gampang sekali terkecoh oleh hoax, oleh isu-isu yang "too good / too bad to be true". Ketiadaan science leadership menyebabkan tidak terbangunnya "science behaviour" (perilaku ilmiah) dan "science tradition" (tradisi ilmiah). Ini pula alasan mengapa sekarang hoax via internet tumbuh subur.  Teknologi diidentikkan dengan internet, dan berjuang di ranah teknologi diidentikkan dengan membuat cyber-army, dengan tugas tidak jauh dari menebar info yang menguntungkan kawan dan merugikan lawan politik, sekalipun itu hoax. Di sektor tataruang, meski sudah lebih dari 25 tahun ada teknologi geospasial, namun masih banyak Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) maupun Rencana Detil Tata Ruang yang belum dibuat dengan analisis geospasial, melainkan hanya berdasarkan intuisi para politisi yang dibumbui bisikan para pengembang property.  Di sektor industri, masih lebih banyak pabrik yang dibuat bukan berdasarkan kajian bahwa dalam sekian tahun kita akan mandiri di produk itu, tetapi hanya ikut dorongan principal di luar negeri atau trend pasar yang kadang sangat fluktuatif. Akibatnya "science & technology management" kita secara umum masih "acak-acakan". 

Ini soal kedua.  Kesulitan mendapatkan motivasi yang kuat, kesulitan mendapatkan role model, kesulitan menentukan mana yang prioritas, bagaimana membuat roadmap, bagaimana strategic plannya, berapa prosen dari PDB / APBN / APBD harus dianggarkan ke sana, siapa saja yang seharusnya berkolaborasi untuk berkompetisi di tingkat international, dsb.  Di perguruan tinggi, mahasiswa kebingungan mencari topik riset S1, S2 maupun S3, karena dosen jarang yang punya kerangka akan riset apa?  Dosen bingung karena prodi atau fakultas juga tidak punya grand design.  Di negara maju, negara punya agenda riset yang jelas dan terukur, kemudian bisa dibagi-bagi ke seluruh campus hingga tingkat mahasiswa.  Walhasil, setelah sekian tahun, hasil-hasil riset itu dapat dimosaik menjadi keunggulan iptek nasional.

Lantas ketiga, "science & technology difusion" (penyebarluasan ilmiah) kita saat ini nyaris bisu. Masyarakat jarang tahu apa yang terjadi di dunia riset tanah air. Media massa belum banyak terlibat, apalagi membantu. Rakyat lebih akrab dengan hingar bingar politik atau dunia seputar selebriti, daripada hasil-hasil intelektual anak bangsa. Para peneliti sendiri lebih merasa didorong oleh perolehan angka kredit (kum), sehingga akhirnya juga banyak yang merasa cukup dengan angka kredit yang didapat dari publikasi ilmiah, syukur-syukur internasional, daripada bahwa hasil riset mereka benar-benar diketahui masyarakat luas untuk diaplikasikan. Mereka cukup puas merasa bahwa "with international scientific publication, we are welcome to international scientific communitiy, and growing to international level", tapi harusnya juga sadar bahwa "with international level, we get international responsibility". Kurang masifnya difusi iptek menyebabkan komunitas yang percaya kepada hoax akhir-akhir ini dirasakan meningkat, misalnya komunitas FlatEarth (yang meyakini bumi datar dan menuduh seluruh proyek ruang angkasa sebagai dusta), atau komunitas antivaksin (yang meyakini vaksin justru melemahkan manusia dan merupakan upaya depopulasi).  Komunitas-komunitas ini mencampuradukkan keraguan mereka pada iptek dengan keyakinan agama dan prasangka +konspirasi politik.

Lalu keempat, "science & technology adoption" di pemerintah (baik berupa kebijakan umum maupun implementasi di pengadaan barang & jasa) maupun di swasta (B2B) juga "masuk angin". Bahkan teknologi canggih yang kebetulan dikembangkan di sesama negara berkembang (South-South-Dialog), semisal dari Brazil, meski dikembangkan oleh pakar yang sempat berkarier 20 tahun di Jerman, sulit diadopsi di Indonesia. Antara lain karena selama proses tender sulit mendapatkan modal kerja dari bank setempat, meski mutu – harga – waktu penyerahannya lebih unggul dibanding produk sejenis dari Jepang atau China. Apalagi kalau yang murni dikembangkan di Indonesia oleh orang-orang yang baru berpengalaman di Indonesia. Terkadang, untuk uji real di lapangan saja, mencari ijinnya setengah mati. Apalagi ijin industri atau ijin perdagangan.  Kasus riset alat terapi kanker dari Dr. Warsito tempo hari menjadi salah satu contoh.  Demikian juga riset mobil listrik, yang kemudian sebagian pelakunya malah sampai dipidana.  Sebagian peneliti kita akhirnya hengkang ke luar negeri, mencari negeri tempat talentanya bisa disalurkan.  Sebagian lagi tetap di dalam negeri, namun mengabdikan diri untuk pesanan asing.  Hasil karya mereka kelak akan terpaksa kita beli dengan devisa, bahkan mungkin dengan utang luar negeri, akibat kita salah mengelola riset atau terlambat mengadopsi hasil riset anak-anak bangsa.

Dan terakhir "science & technology audit" menjadi nyaris tidak ada. Perkembangan riset iptek di tanah air jadi sulit dievaluasi dan dikontrol, karena mau dibandingkan dengan apa? Ketika leadership lemah, maka nyaris tak ada roadmap, sehingga kemajuan risetpun jadi sulit dinilai. Berapa peneliti dan penelitian yang seharusnya ada di bidang kepakaran apa, bagaimana kualitasnya, berapa output & outcome yang seharusnya dihasilkan, semua masih mirip fatamorgana.  Oleh karena itu, meski sudah ada kebijakan untuk mekanisme anggaran riset berbasis output, penulis memprediksi, dalam waktu dekat masih akan ada banyak kendala dalam implementasinya.

Tentu saja selalu ada orang-orang hebat yang menjadi perkecualian. Merekalah para pionir, yang tetap memiliki mahakarya, meski di bawah kondisi yang maha sulit ini. Semoga Allah membalas mereka dengan balasan yang lebih baik.

LEVEL RISET KITA  (Republika, 18 Feb 2017)

Jumat, 17 Februari 2017


Haaiii apa kabar warga kimia ??πŸ˜„ Gimana kabarnya ??πŸ˜„ Udah liburan kemana aja ??πŸ˜…πŸ˜… Nggak terasa ya kita udah kuliah lagi, udah praktikum lagi, dan pasti akan ngerjain laporan lagi.
Tapi jangan khawatir untuk mengawali perkuliahan Buletin Al-Chemist Hima Kimia hadir nihhh buat bahan bacaan kalian. Untuk Tema buletin edisi Februari ini yaitu "Sikat Siakad". Yaitu tentang bagaimana kita bisa "move on" dari semester kemarin dan menjadi lebih baik lagi di semester iniπŸ˜‚πŸ˜‚. Juga ada informasi tekini dan ada kuis berhadiah juga lhooo.. Pasti udah gak sabar ingin baca ?? Ini dia Buletinnya...








Kamis, 16 Februari 2017



Pada hari Sabtu, 11 Februari 2017 telah dilaksanakan Rapat Kerja II Hima Kimia 2017. Rapat Kerja II dihadiri oleh Wakil Dekan III yaitu Pak Suhandoyo, MS. dan Bu Dina, M.Pd selaku Dosen Pembimbing Hima Kimia 2017. Acara dimulai pukul 08.00 WIB dan selesai jam 13.00 WIB. Rangkaian acara diawali dengan pembukaan, sambutan, presentasi program kerja per dept/divisi, tanya jawab dan diakhiri dengan fiksasi program kerja Hima Kimia 2017. Semoga progam kerja yang direncanakan akan berjalan dengan apa yang diharapkan oleh kita semua. Untuk hasil Program Kerja Hima Kimia 2017 dapat dilihat secara lengkap disini.
Dan untuk Laporan Pertanggungjawaban Hima Kimia FMIPA UNY 2016 dapat dilihat disini.

Minggu, 12 Februari 2017

      Tato merupakan salah satu hasil kreativitas seni yang terlukis di bagian tubuh seseorang. Henna sering digunakan oleh masyarakat India khususnya wanita pada acara penikahan mereka. Kebanyakan tato permanen diperoleh dengan cara yang dapat menyakiti kulit tubuh seseorang, maka dari itu muncullah inovasi tato yang bersifat sementara yaitu dengan cara tato henna. Henna sangat digandrungi oleh para wanita. Mulai dari anak-anak, artis, remaja, hingga ibu hamil. Henna berasal dari tumbuhan alami yang tak berbahaya dan bahkan pada zaman dulu digunakan sebagai bahan kosmetik. Tumbuhan henna di olah menjadi serbuk, umumnya serbuk henna berwarna hijau dan akan berubah warna menjadi merah kecoklatan ketika ditambah dengan air. Pada keadaan yang seperti ini, henna masih tergolong aman.
      Kemudian ketika terpapar penjelasan seperti itu, bahaya penggunaan henna seperti apa? Meski berasal dari tumbuhan, henna tidak sepenuhnya aman bagi kesehatan. Sebuah penemuan dari American Academy of Dermatology menyatakan henna dapat membahayakan kesehatan kulit. Henna alami memang tidak membahayakan, sedangkan henna yang berbahaya ialah henna yang berwarna hitam. Selain itu, henna ini lebih cepat kering dan warna lebih tahan lama daripada henna alami. Henna yang digunakan sebagai tato temporer ini mengandung zat berbahaya dan dapat menyebabkan alergi atau iritasi pada kulit. Zat kimia berbahaya yang terkandung dalam henna hitam ialah papaphenylenediamine (PPD). PPD dicampurkan dalam henna bertujuan untuk membuat hasil dengan warna yang lebih tajam dan tahan lama.
      Kulit seseorang berbeda-beda tingkat kesensitifannya. Maka dari itu, penggunaan dan pemilihan henna perlu di perhatikan. Usahakan mengetahui kandungan henna yang anda gunakan. Jangan tergiur dengan henna yang memiliki warna yang tajam dan tahan lama karena dimungkinkan terdapat kandungan zat kimia di dalamnya. Pada saat memulai penggunaan henna lebih baik sebelumnya mengaplikasikan dahulu ke tangan anda sedikit, tunggu beberapa menit reaksi yang terjadi. Jika tidak ada reaksi maka dimungkinkan henna yang digunakan aman tetapi jika menimbulkan efek seperti kulit terbakar lebih baik menghentikan penggunaan henna karena efek dari penggunaan henna yang mengandung zat kimia berbahaya dapat menimbulkan alergi, peradangan pada kulit, efek yang lebih parah lagi yaitu dapat menyebabkan kulit melepuh dan kulit dapat menjadi lebih peka terhadap sinar matahari. Biarkan tato henna hilang dengan sendirinya jangan menghapus tato dengan cara menggosoknya karena dapat menyebabkan kulit iritasi.
     Keindahan henna memang sangat menarik tetapi anda harus selalu berhati-hati karena bahan kimia kebanyakan bersifat merusak dan berbahaya bagi kesehatan. Jangan sampai goresan henna yang indah dapat mengorbankan kesehatan kulit anda.
(Dept. Jurnalistik Hima Kimia 2017)

DAFTAR PUSTAKA

Alodokter. 2016. Hati-Hati, Tato Henna Mengandung Campuran yang Berbahaya. Diakses tanggal 5 Februari 2017 dari http://www.alodokter.com/hati-hati-tato-henna mengandung-campuran-yang-berbahaya.

Tribunnews. 2015. Pakai Henna Bikin Tangan Seperti ini?. Diakses tanggal 5 Februari 201 dari http://makassar.tribunnews.com/2015/06/16/pakai-henna-bikin-tangan-seperti- ini-baca-penjelasannya.





Kamis, 09 Februari 2017

Kabar gembira untuk warga kimia, jurusan kita kini ada PDL-nya.
Ada 4 pilihan desain untuk calon PDL kebanggaan Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA UNY.
Desain 1 (tulisan Jurusan Pendidikan Kimia menggunakan garis bawah)

Desain 2 (tulisan Jurusan Pendidikan Kimia tidak menggunakan garis bawah)

Desain 3 (tulisan Himpunan Mahasiswa Kimia menggunakan garis bawah)

Desain 4 (tulisan Himpunan Mahasiswa Kimia tidak menggunakan garis bawah)

Desainnya bisa kalian pilih di website ini

Rabu, 08 Februari 2017



Pada kesempatan kali ini Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA UNY mendapat kehormatan untuk menjamu mahasiswa Prodi Pendidikan Kimia UNILA yang melaksanakan KKL di LIPI Jakarta, kemudian bertolak ke Yogyakarta dan berkunjung ke Universitas Negeri Yogyakarta, tepatnya di Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA UNY pada hari Selasa, 7 Februari 2017. Rombongan tiba di UNY pada pukul 08.30 WIB. Agenda yang dilakukan yaitu pembukaan, sambutan, selayang pandang tentang Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA UNY dan ditutup dengan pemberian kenang-kenangan dilanjutkan kunjungan laboratorium di laboratorium KIMIA FMIPA UNY.




Hai hai warga Jurdik Kimia. Gimana kabarnya? Udah liburan kemana aja nih? Nggak terasa udah mau masuk kuliah aja ya. Ada info baru nih tentang pengumuman Asisten Praktikum tahap II Semester Genap 2016/2017. Kuota  asisten  di  beberapa  mata  praktikum  belum  terpenuhi.  Apabila  ada  temen-temen yang  hendak  mendaftar, dapat  menghubungi  Laboran  di  masing-masing  Laboratorium pada awal perkuliahan. Untuk lebih lengkapnya bisa dilihat disini

AGENDA HIMAKI

AGENDA HIMAKI
DIES NATALIS JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA KE 62

GALERI HIMAKI

GALERI HIMAKI
Dokumentasi Agenda Himaki
HIMAKI UNY. Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Pengunjung 2018

admin

Arvian : 085741331362

Arsip Blog

Entri Populer