Selasa, 14 Maret 2017



     Classmeeting On Chemistry (COC) adalah suatu kegiatan yang diadakan HIMA Kimia FMIPA UNY untuk memberikan wadah bagi anggota HIMA Kimia UNY untuk dapat refreshing sekaligus berolahraga bersama yang berupa perlombaan antar kelas. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengeratkan tali persaudaraan antar mahasiswa kimia angkatan 2014, 2015 dan 2016 pada tahun ini. Kegiatan ini telah dilaksanakan pada tanggal 11-12 Maret 2017. Pada tahun 2017 ini adalah tahun pertama diadakannya Classmeeting On Chemistry yang merupakan salah satu program kerja Departemen Seni dan Olahraga (Senior) tetapi Alhamdulillah mendapat antusiasme yang baik dari mahasiswa jurdik kimia.
     Classmeeting On Chemistry mengadakan 3 perlombaan yaitu Badminton, Volly Ciluk Ba, dan Mini Soccer. Setiap kelas mengirimkan delegasi untuk mengikuti serangkaian kegiatan ini, 2 orang ganda campuran pada lomba badminton, 2 orang laki-laki dan 5 orang perempuan untuk Volly Ciluk Ba, dan 7 orang perempuan untuk mini soccer. Perlombaan ini diadakan 2 hari di 2 tempat yang berbeda. Pada tanggal 11 Maret 2017 dilakukan pembukaan acara dan khusus untuk lomba badminton yang dilaksanakan di Gor Karanggayam sedangkan tanggal 12 Maret 2017 dilakukan lomba Mini Soccer dan Volly Ciluk Ba sekaligus penutupan yang bertempat di Dekanat Selatan FMIPA UNY. Para perserta di berikan kebebasan untuk menggunakan dresscode sebagi identitas kelas masing-masing. Semua perlombaan diambil juara 1 dan 2.

Juara I badminton        : Pendidikan Kimia C 2016
Juara II badminton       : Kimia E 2014
Juara I Mini Soccer      : Pendidikan Kimia C 2016
Juara II Mini Soccer     : Pendidikan Kimia A 2016
Juara I Volly Ciluk Ba   : Kimia B 2016
Juara II Volly Ciluk Ba  : Pendidikan Kimia A 2016

Selamat untuk para pemenang Classmeeting On Chemistry 2017.
     Apa saja yang membuat COC ini tambah menarik? Nah, dalam COC ini ada nih special photoboot bagi teman-teman yang mau nge-hits, ada juga doorprize dan terakhir keseruan yang tidak akan terlupakan selamanya. Selain itu ada best suporter untuk kelas terheboh menyemangati teman sekelasnya yang sedang bertanding.
Best Suporter : Pendidikan Kimia C 2016
     Wahh, semoga acara ini bisa bermanfaat dan menjadi ajang silahturahmi yang berlanjut yaa. Salam Senior Suka-Suka.


HIMA KIMIA 2017 “Siapkan Diri bersama Menginspirasi”

Minggu, 05 Maret 2017



Di awal bulan Maret ini, tepatnya tanggal 04 Maret 2017, HIMA Kimia UNY telah usai menyelenggarakan final Chemistry and English Competition (CEC) Tingkat Nasional tahun 2017. Dalam acara ini, ada 3 jenis lomba yang diselenggarakan untuk final yaitu Olimpiade Kimia, Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) dan Writing and Story Telling Contest (WSC). Berbeda dari seleksi regional bulan februari lalu yang diselenggarakan di 7 regional tingkat nasional, acara final ini dilaksanakan di satu tempat yaitu di Gedung FMIPA UNY. Dalam final ini terdiri dari 50 finalis olimpiade kimia yang sudah diseleksi saat seleksi regional, 10 finalis LKTI, dan 10 finalis WSC yang sudah diseleksi karyanya oleh dewan juri. Dari ketiga lomba ini, finalis lomba olimpiade melakukan 3 kali seleksi, yaitu pengerjaan soal, praktikum dan Lomba Cerdas Cermat (LCC), sedangkan finalis LKTI langsung mempresentasikan karyanya didepan dewan juri dan finalis WSC menampilkan karyanya secara langsung didepan dewan juri.
Pemenang dari Chemistry and English Competition (CEC) mendapatkan tropi penghargaan, uang pembinaan, sertifikat dan lain-lain. Berikut pemenang dari CEC Tingkat Nasional tahun 2017 :
1.      Olimpiade Kimia
·         Juara I             : SMA Semesta Semarang
·         Juara II            : SMA YSKI Semarang
·         Juara III : SMA 1 Yogyakarta
2.      LKTI
·         Juara I             : SMA 1 Yogyakarta
·         Juara II            : SMA 6 Yogyakarta
·         Juara III : SMA Kebon Dalem Semarang
3.      WSC
·         Juara I : SMA 3 Yogyakarta
·         Juara II            : SMA Al Firdaus
·         Juara III  : SMA Lazuardi GIS
Selamat kepada para pemenang, semoga acara ini berguna bagi generasi penerus bangsa dan kepada peserta yang belum berkesempatan, tetap semangat dan terus mecoba lagi ditahun depan. CEC 2017 “Wujudkan Generasi Cerdas untuk Indonesia Emas”.

Selasa, 21 Februari 2017

Haiii warga Jurdik Kimia ?? Gimana rasanya kuliah diminggu kedua ini? Apakah ada ganjalan dan keluh kesah di awal perkuliahan ini terhadap pelayanan Jurusan Pendidikan Kimia dan Hima Kimia? Jika ada ayo sampaikan ganjalan dan keluh kesah kamu disini.

Minggu, 19 Februari 2017






Pada hari Sabtu tanggal 18 Februari 2017 telah dilaksanakan babak seleksi regional untuk Olimpiade Kimia Nasional Chemistry and English Competition 2017. Rangkaian acara di mulai dengan registrasi peserta pada pukul 07.30-08.30. Kemudian setelah peserta melakukan registrasi, para peserta mulai memasuki ruangan pada pukul 08.30 lalu para penjaga ruangan mulai membacakan tata tertib dan para peserta mulai mengerjakan soal hingga pukul 10.15.
Seleksi regional terbagi menjadi 9 regional tetapi tahun ini kita hanya bisa melaksanakan di 7 regional yaitu Yogyakarta, Semarang, Jakarta, Bandung, Surabaya, Purwokerto, dan Samarinda. Meskipun hanya bisa melaksanakan di 7 regional tetapi antusias para peserta dari masing-masing regional sangat menggebu. Semoga dengan semangat dan usaha yang kalian bawa dalam seleksi regional ini dapat membuahkan hasil sesuai yang kalian inginkan. Teruslah berdo’a dan teruslah berkarya. Sampai ketemu difinal dan bertemu dengan teman baru dari peserta LKTI dan Writing and Story Telling Contest. To be the winner and give a best your action.


Hasil gambar untuk skripsi

Haloo kimiawan calon negarawan. Mungkin beberapa dari kalian sempat berpikir, buat apa sih susah-susah penelitian, capek-capek ngerjain skripsi, kalo ujung-ujungnya hasil kerja keras kalian itu cuma jadi tumpukan kertas yang bertumpuk jadi satu di sudut ruang. Mungkin itu adalah salah satu keresahan yang dirasakan banyak mahasiswa Indonesia saat ini. Mengapa sih hasil pemikiran insan-insan cendekia bangsa ini hanya dijadikan sebagai formalitas untuk syarat kelulusan?

Menurut Prof. Dr.-Ing. Fahmi Amhar (Peneliti Utama Badan Informasi Geospasial dan Anggota Dewan Pakar IABIE) Mengapa level riset kita secara internasional rendah?  Level riset kita bahkan lebih rendah dibanding Malaysia, atau Vietnam.  Tulisan ini mencoba mengungkap beberapa sebab.
Pertama karena kita tak lagi punya "science & technology leadership" (kepemimpinan iptek). Yang saya maksud adalah kepemimpinan di level elit nasional, baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Masih ingatkah kita ketika dulu ada seorang Presiden "tertipu" oleh "penemuan blue energy", dan baru mengundang para peneliti setelah masyarakat ikut tertipu (tertipu berjama'ah). Di berbagai kementerian & lembaga, juga di kampus, ego sektoral / unital (sekalipun sama-sama untuk riset) sangat terasa. Demikian juga bagaimana dengan masyarakat kita sekarang ini, melek internet tetapi gampang sekali terkecoh oleh hoax, oleh isu-isu yang "too good / too bad to be true". Ketiadaan science leadership menyebabkan tidak terbangunnya "science behaviour" (perilaku ilmiah) dan "science tradition" (tradisi ilmiah). Ini pula alasan mengapa sekarang hoax via internet tumbuh subur.  Teknologi diidentikkan dengan internet, dan berjuang di ranah teknologi diidentikkan dengan membuat cyber-army, dengan tugas tidak jauh dari menebar info yang menguntungkan kawan dan merugikan lawan politik, sekalipun itu hoax. Di sektor tataruang, meski sudah lebih dari 25 tahun ada teknologi geospasial, namun masih banyak Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) maupun Rencana Detil Tata Ruang yang belum dibuat dengan analisis geospasial, melainkan hanya berdasarkan intuisi para politisi yang dibumbui bisikan para pengembang property.  Di sektor industri, masih lebih banyak pabrik yang dibuat bukan berdasarkan kajian bahwa dalam sekian tahun kita akan mandiri di produk itu, tetapi hanya ikut dorongan principal di luar negeri atau trend pasar yang kadang sangat fluktuatif. Akibatnya "science & technology management" kita secara umum masih "acak-acakan". 

Ini soal kedua.  Kesulitan mendapatkan motivasi yang kuat, kesulitan mendapatkan role model, kesulitan menentukan mana yang prioritas, bagaimana membuat roadmap, bagaimana strategic plannya, berapa prosen dari PDB / APBN / APBD harus dianggarkan ke sana, siapa saja yang seharusnya berkolaborasi untuk berkompetisi di tingkat international, dsb.  Di perguruan tinggi, mahasiswa kebingungan mencari topik riset S1, S2 maupun S3, karena dosen jarang yang punya kerangka akan riset apa?  Dosen bingung karena prodi atau fakultas juga tidak punya grand design.  Di negara maju, negara punya agenda riset yang jelas dan terukur, kemudian bisa dibagi-bagi ke seluruh campus hingga tingkat mahasiswa.  Walhasil, setelah sekian tahun, hasil-hasil riset itu dapat dimosaik menjadi keunggulan iptek nasional.

Lantas ketiga, "science & technology difusion" (penyebarluasan ilmiah) kita saat ini nyaris bisu. Masyarakat jarang tahu apa yang terjadi di dunia riset tanah air. Media massa belum banyak terlibat, apalagi membantu. Rakyat lebih akrab dengan hingar bingar politik atau dunia seputar selebriti, daripada hasil-hasil intelektual anak bangsa. Para peneliti sendiri lebih merasa didorong oleh perolehan angka kredit (kum), sehingga akhirnya juga banyak yang merasa cukup dengan angka kredit yang didapat dari publikasi ilmiah, syukur-syukur internasional, daripada bahwa hasil riset mereka benar-benar diketahui masyarakat luas untuk diaplikasikan. Mereka cukup puas merasa bahwa "with international scientific publication, we are welcome to international scientific communitiy, and growing to international level", tapi harusnya juga sadar bahwa "with international level, we get international responsibility". Kurang masifnya difusi iptek menyebabkan komunitas yang percaya kepada hoax akhir-akhir ini dirasakan meningkat, misalnya komunitas FlatEarth (yang meyakini bumi datar dan menuduh seluruh proyek ruang angkasa sebagai dusta), atau komunitas antivaksin (yang meyakini vaksin justru melemahkan manusia dan merupakan upaya depopulasi).  Komunitas-komunitas ini mencampuradukkan keraguan mereka pada iptek dengan keyakinan agama dan prasangka +konspirasi politik.

Lalu keempat, "science & technology adoption" di pemerintah (baik berupa kebijakan umum maupun implementasi di pengadaan barang & jasa) maupun di swasta (B2B) juga "masuk angin". Bahkan teknologi canggih yang kebetulan dikembangkan di sesama negara berkembang (South-South-Dialog), semisal dari Brazil, meski dikembangkan oleh pakar yang sempat berkarier 20 tahun di Jerman, sulit diadopsi di Indonesia. Antara lain karena selama proses tender sulit mendapatkan modal kerja dari bank setempat, meski mutu – harga – waktu penyerahannya lebih unggul dibanding produk sejenis dari Jepang atau China. Apalagi kalau yang murni dikembangkan di Indonesia oleh orang-orang yang baru berpengalaman di Indonesia. Terkadang, untuk uji real di lapangan saja, mencari ijinnya setengah mati. Apalagi ijin industri atau ijin perdagangan.  Kasus riset alat terapi kanker dari Dr. Warsito tempo hari menjadi salah satu contoh.  Demikian juga riset mobil listrik, yang kemudian sebagian pelakunya malah sampai dipidana.  Sebagian peneliti kita akhirnya hengkang ke luar negeri, mencari negeri tempat talentanya bisa disalurkan.  Sebagian lagi tetap di dalam negeri, namun mengabdikan diri untuk pesanan asing.  Hasil karya mereka kelak akan terpaksa kita beli dengan devisa, bahkan mungkin dengan utang luar negeri, akibat kita salah mengelola riset atau terlambat mengadopsi hasil riset anak-anak bangsa.

Dan terakhir "science & technology audit" menjadi nyaris tidak ada. Perkembangan riset iptek di tanah air jadi sulit dievaluasi dan dikontrol, karena mau dibandingkan dengan apa? Ketika leadership lemah, maka nyaris tak ada roadmap, sehingga kemajuan risetpun jadi sulit dinilai. Berapa peneliti dan penelitian yang seharusnya ada di bidang kepakaran apa, bagaimana kualitasnya, berapa output & outcome yang seharusnya dihasilkan, semua masih mirip fatamorgana.  Oleh karena itu, meski sudah ada kebijakan untuk mekanisme anggaran riset berbasis output, penulis memprediksi, dalam waktu dekat masih akan ada banyak kendala dalam implementasinya.

Tentu saja selalu ada orang-orang hebat yang menjadi perkecualian. Merekalah para pionir, yang tetap memiliki mahakarya, meski di bawah kondisi yang maha sulit ini. Semoga Allah membalas mereka dengan balasan yang lebih baik.

LEVEL RISET KITA  (Republika, 18 Feb 2017)

AGENDA HIMAKI

AGENDA HIMAKI
CEC 2017

Galeri Himaki

HIMAKI UNY. Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Follow by Email

Pengunjung 2017

admin

Roni : 085743426771

Entri Populer